Sketsa Warna Perayaan Hidup Mudji Sutrisno

Kamis, 9 Januari 2014 | Berita Foto Jakarta
20140109 Mudji Sutrisno_TIM_AljonAliSagara_IndonesiaFrameCom
IndonesianFrame.com | JAKARTA
– Barang siapa menanam tanaman padi maka ia akan menuai buahnya padi, Siapa menabur ia akan menuai, asalkan dipupuk, dirawat, dan disiram, inilah kebijaksanaan hidup dalam kebudayaan agraris.

Filosofi bertanam padi itulah yang kemudian menurut Mudji Sutrisno mengatakan bahwa dirinya mendapati persoalan apakah padi buah-buahnya baik atau buruk atau apakah masih setengah mentah, semuanya masuk ke dalam kategori penilaian awal.

“Cikal bakal yang dideskripsikan atau diperincikan sebagai penilai baik dan buruk mengenai laku dan tindakan yang lalu menjadi embrio moralitas bersumber ukuran baik buruk menurut wahyu suci atau salah benar menurut tradisi penilaian etika,” kata Mudji saat melakukan pameran tunggal miliknya di Ruang Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Karya-karya goresan sketsanya kali ini bertajuk “Dari Stupa ke Stupa” tersebut, mengalir bebas tak berikat dan menjelma kemudian masuk kedalam rasa suasana religius setelah sketsa-sketsa tersebut ia lakukan proses pewarnaan, ini meliputi perayaan kehidupan seorang Mudji di Kathmandu Nepal.

“Saya mencoba mengungkap sketsa berwarna, karena di Kathmandu Nepal.., dalam peziarahan kami “Dari Stupa ke Stupa”, saya terpukau (oleh) siraman warna-warna ritus suci merah, kuning, dan hijau di puncak-puncak stupa untuk bersyukur,” sebutnya.

Puisi visual, dikatakan Romo Mudji, adalah bukan disebabkan kata-kata tidak lagi berdaya, bukan lantaran usaha berbicara selalu ketemu jalan buntu. melainkan ini adalah menjadi ‘kanal yang lain’ yang selalu bergairah memuntahkan permenungan dan pikirannya.

Untuk menghayati hidup, Mudji menyiratkan, “Hayatilah untuk tetap kontemplasi dalam laku sehari-hari! Mudah ditulis, mudah diucapkan,” namun dirinya mengatakan, “Itu tidak segampang mengatakannya,” katanya.

Pameran tunggal Mudji Sutrisno adalah pameran tunggal yang ke 5. Melalui sketsa yang ia pamerkan seolah ingin mengatakan bahwa, spiritualitas perayaan hidup seharusnya mampu menjawab kekerasan teror, ketidakadilan, kemiskinan, dan penghancuran alam. Kepentingan keserakahan ekonomi yang melahap seluruhnya untuk dinikmati sendiri atas nama sistem dan struktur.(IF)

FOTO: Karya sketsa berjudul “Perayaan Kehidupan” yang ditampilkan dalam Pameran Sketsa Tunggal Mudji Sutrisno bertemakan “Dari Stupa ke Stupa” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (9/1/2014).(Aljon Ali Sagara)

Sumber: IndonesianFrame.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: